#Bersyair

Tulisan Panjang

Aku ingin menulis yang panjang
Tapi bukan tentangmu
Aku ingin menulis yang panjang
Tapi bukan untukmu
Aku ingin menulis yang panjang
Cerita yang bisa dikenang orang
Aku ingin menulis yang panjang
Cerita yang bisa menenangkan orang
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang tawa yang menggembirakan
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang air mata yang mengharukan
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang senyum yang menenangkan
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang peluk yang menghangatkan
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang amarah yang jelmaan sayang
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang cemburu yang jelmaan rindu
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang sedih yang kepanjangan
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang menunggu yang menyebalkan
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang pertemuan yang disesalkan
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang perpisahan yang direlakan
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang takdir yang tak bisa dipilih
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang ingatan yang membuat perih
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang paham pada setiap kalam
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang malam yang selalu kelam
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang angin yang tak selalu dingin
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang air laut yang selalu asin
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang mata yang mengurai kata-kata
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang diam yang tetap punya makna
Aku ingin menulis yang panjang
Tentang luka yang menyatu dengan cinta
Aku ingin menulis yang panjang
Haruskah tentang semesta kita?

Ya, tulisan yang akan selalu panjang

Iklan
#30HariMenulisSuratCinta, #IniCeritaku

“Apa Kabar?” yang Ke Dua Belas

Hari ini, tanggal 30 November. Aku masih selalu mengingat tentangmu. Oh iya, hari ini hujan turun begitu derasnya. Langit terus menyuguh gemuruh. Muadzin menyeru merdu. Ashar telah tiba. Seperti kala itu, ketika aku duduk di samping pembaringan yang kau pilih sendiri. Bukan lagi di dalam kamar kesayangan. Katamu, supaya tak gerah dan lebih mudah menemui siapa yang datang. Lembut aku belai wajahmu. Mendekatkan telingaku di dekat bibirmu setiap kali kau ingin meminta atau sekadar berucap. Aku berdoa, membacakanmu ayat-ayat yang memang diyakini menenangkanmu.

Sebentar aku tunaikan ashar-ku dan sejenak merebah punggungku yang sedikit kaku. Belum jenak aku memejam, aku mendengar langkah-langkah kaki yang berderap cepat. Berlari, ya mereka berlari. Menghampirimu. Aku membuka pintu kamarku dan turut menghambur. Erat memelukmu.

Apa masih ingat? Aku selalu memelukmu erat-erat. Memilih sendiri caraku merasa aman berada di belakang kemudimu. Aku suka dibonceng kemana-mana. Kau kenalkan pada hampir seluruh sudut kota. Mendengarmu bercerita dimana ada beda ataupun sama tentang segala rupa.

Apa masih ingat? Aku begitu khidmat mendengar setiap cerita yang berbumbu segala rasa. Menikmati tebakan-tebakan yang membuat imajiku terlunta, sebab terlalu sering kalah. Tapi tak apa, aku menyukainya. Menyimpannya rapat-rapat di dalam kotak ingat, yang sampai sekarang masih suka menjulur-julur menyapaku.

Apa masih ingat? Tentang satu liter susu cokelat dan es krim rasa coklat yang kerap menemani kita menikmati sore beranjak senja. Menggenapinya dengan tawa diantara dongeng-dongeng yang tercerita, yang membuatku mengenal siapa Bima berikut kerabatnya. Aku, yang selalu tergoda mendengar kelanjutan kisahnya.

Apa masih ingat? Tentang lukaku sebab belajar bersepeda dan memulai persahabatan dengan korek api. Juga, dengan telapak kaki yang harus selalu tulus disambangi duri. Aku tak lagi takut berlari, dan semakin menyukai menari yang bukan hanya dalam imajinasi. Itu bahagia, yang mungkin orang lain tak mengerti. Tapi aku selalu menyimpannya di sini, di dalam hati.

Apa masih ingat? Perlahan, kau mengajari aku memahami cinta. Cinta yang mendekati sempurna, tanpa menakar pengorbanan lebih dan kurangnya. Cinta yang tak menjauh dari ikhlas dan hormat. Cinta yang sejatinya selalu ada dan dimiliki setiap manusia. Kau yang membuatnya lebih mudah aku mengerti, meski aku pun tak yakin bisa memahamkan kepada yang lain, seperti yang kau lakukan.

Apa masih ingat? Segala mimpi yang pernah aku bagi dan kau katakan aku tak boleh berhenti meraihnya, memeluknya, mensyukurinya. Tentang semua harap yang aku eja dan mencoba lantang membacanya. Meyakinkan semesta agar menemaniku berlari meraihnya. Kau kemas semua dalam tawa, mengajakku larut di dalamnya. Menyukainya dan menjadikannya penyembuh luka-luka.

Apa masih ingat? Aku pernah marah karena kue kesukaanku lebih dulu masuk dalam perutmu. Aku menangis meronta, persis saat aku kehilanganmu. Maaf, mungkin tak cukup seribu kali aku memohon maaf padamu. Tapi sesungguhnya, aku sangat menyayangimu. Aku lebih suka jika saat itu kau membaginya menjadi dua denganku. Seperti yang sebelumnya sering kau lakukan untukku. Sekali lagi, maaf.

Aku tak punya alasan apa pun, menepikan rasa-rasa yang sengaja aku jaga. Atau sekadar melupa cerita, aku tak bisa. Biarkan semua menjadi teman di setiap perjalanan, ketika kemudian, aku sendirian.

Jika di detik ini pun aku masih bercerita padamu, aku selalu yakin kau mendengarnya. Merasakan apa-apa yang aku rasa. Seperti yang biasa. Aku biarkan semua abadi dalam tulisan, seperti yang pernah kita biasakan. Oh iya, aku masih menyimpan diary biru itu. diary pertamaku. Darimu, untukku :’)

Aku harap, aku tak pernah mengenal lelah memelukmu dengan do’a-do’a. Karena sekarang hanya itu yang aku bisa. Aku harap, kau pun menikmati bahagia seperti yang aku rasa. Bahkan, aku ingin kau lebih bahagia. Aku yakin, Tuhan menyayangimu sepenuhnya. Malaikat-malaikat juga tahu, aku selalu mengagumimu, merasa selalu dibahagiakanmu.

Aku rasa begitu pun yang dirasa mereka. Mereka yang mengantar kepergianmu, di akhir perjalananmu, di tempat yang fana ini. Menuju yang abadi. Maaf, kala itu aku meronta, air mataku menderas. Bukan aku tak merelakanmu pergi. Waktu itu aku merasa masih banyak yang belum usai aku ceritakan padamu.

Dan ini, tahun ke-dua belas aku tanpamu. Aku sudah besar. Tapi mungkin belum sedewasa yang kau harapkan, aku akan perjuangkan. Sudah memeluk beberapa mimpi yang pernah aku ceritakan padamu. Nanti, aku akan berlari lebih kencang lagi. Meraih mimpi-mimpi. Karena sekarang, hanya ini yang aku bisa lakukan, untuk membahagiakanmu. Membuktikan kepada semesta bahwa segala yang pernah kau lakukan, tak pernah aku sia-siakan.

Bolehkah aku bertanya, “Apa kabar?” padamu? Aku rindu senyummu, tawamu. Dan..eratnya pelukanmu, yang selalu menenangkan aku.

Mungkin, yang lain juga sepertiku, merindukanmu. Eyang Kakung yang selalu membagikan kecupan semesta lewat cerita dan tawanya… :*

#Bersyair

Ingatan Komedi

Malam-malam
Isi kepalaku penuh sesak
Seperti angkot 61 Sabtu malam kemarin

Aku ingin berkesah
Tapi yang ada hanya gelap dan basah
Oh, satu lagi
Bau hujan

Katanya, aku hanya lelah
Hanya butuh berserah

Katanya, aku tak akan kalah
Karena Tuhan tak pernah salah

Aku mengangguk-angguk
Mengingat suatu percakapan
Dengannya
Kala itu

Benar katanya
Lain waktu aku akan mengalami hal yang sama
Bedanya hanya sensasi rasa

Katanya
Jika lelah, istirahatlah
Menabung tenang banyak-banyak
“Biar kalau penat nggak jadi galak”
Lalu aku tergelak
Ingatanku tak bisa dielak

Ah, seperti sekarang
Semua menjadi komedi
Hanya komedi
Hahahahahaha….

#Bersyair

Tetap Aku Nanti

Mungkin, suatu kali nanti aku akan rindu sapamu
Mungkin, suatu kali nanti aku akan rindu senyummu

Telah berapa lama kamu tak mengulangnya?

Kepalaku sudah terbiasa menyimpan yang receh
Kepalaku sudah terbiasa memanggil ingatan yang remeh

Barangkali, tenangku pun telah terbiasa
Dengan matamu
Dengan bahumu
Dengan adamu

Lalu bagaimana?
Kalender sudah aku balik dua kali
Tapi kamu belum juga tiba
Aku harus menghitung apa lagi?

Ya, kamu
Tetap aku nanti

#Bersyair

Angan-Angan

Hei,
Adakah cerita langit yang ingin kaubagi?
Berapa banyak bintang menemani?

Menurutku, langit sedang penuh dengan angan-angan
Ya, aku keras kepala membuatnya beterbangan

Aku ingin angkasa penuh dengan angan-angan milikku
Sampai ketika kau menghela napas, mereka turut mampir lewat hidungmu

Sekali, dua kali
Hingga berkali-berkali

Pasti sampai
Ya, pasti sampai

Lama-lama kau akan mengenalinya
Angan-angan yang menari-nari bersama udara
Lalu ingatan kita bertumbukan
Lagi-lagi menyesak di udara

Lalu semesta penuh
Tentang aku dan kamu
Hingga entah bagaimana bertemu
Sampai rindu itu utuh

Melewati senja
Aku mengenang kita
Yang kini jadi ingatan belaka
Sampai masuk ke kotak lupa

#NulisDuet #Kolaborasi

Sementara Itu

Suatu pagi, seperti biasa aku berjalan menuju ujung gang ketika berangkat kerja. Tapi, aku mampir dulu membeli bubur ayam Bu Ani. Iya, Rima teman sekantorku titip bubur ayam untuk sarapan. Katanya, bubur ayam Bu Ani ini te-o-pe-be-ge-te.

Aku segera menuju warung Bu Ani yang terletak di teras depan rumahnya. Ia baru saja menyelesaikan pesanan sebanyak 4 bungkus untuk Bu RT. Setelah Bu RT mohon diri, giliran aku ditanyai pesananku.

Sembari melayani, Bu Ani memang suka mengajak ngobrol pelanggannya. Seperti yang dilakukannya kepadaku juga.

“Temannya masih suka nitip ya, Mbak?”, tanya Bu Ani.

“Iya Bu. Kalau dia lagi kangen bubur Bu Ani, dia pasti nitip, hehe..”, jawabku.

“Mbak Sarah masih ngekos di rumah Pak Atma?” tanya dia lagi sambil meracik bubur pesanananku.

“Iya, Bu. Nggak terlalu jauh soalnya Bu aksesnya”, aku menjawab santai.

“Ati-ati, Mbak. Studio musik yang di sampingnya itu habis digerebek karena katanya ada yang sakaw. Lama-lama nanti bisa merembet ke mana-mana”, tiba-tiba ia bercerita.

Aku menghela napas, bingung mau menimpali apa.

Sudah sering ada kabar-kabar aneh yang berkembang dari mulut ke mulut, aku tak pernah paham ujung pangkalnya. Tapi kali ini, karena topiknya dekat dengan aku, aku jadi sedikit kepo.

“Masa sih Bu? Saya kok malah nggak tahu ya?, aku menimpali dengan polosnya.

“Nah itu tadi Bu RT yang bilang. Makanya Mbak ati-ati aja ya”, ujarnya mantap.

Aku hanya mengangguk-angguk. Pesanan sudah rapi. Jadi aku segera mohon diri.

Seratus meter menuju mulut gang. Aku memikirkan apa yang disampaikan Bu Ani barusan. Itu berita benar atau tidak. Jujur saja aku agak trauma dengan kisah-kisah semacam itu.

Sampai di kantor, aku memberikan bubur pesanan Rima. “Makasih ya, Sar”, ucapnya cepat sambil merebut buburnya.

“Iya”, jawabku sambil menghela napas agak panjang dan berbalik menuju meja kerjaku.

Aku masih memikirkan perkataan Bu Ani tadi, sebab setelah dipikir-pikir aku memang mendengar suara gaduh dari studio musik itu tadi malam.

“Tuing tuing”, nada dering whatsappku bunyi. Ternyata dari grup whatsapp kosan Pak Atma.

Pak Atma, semalem ribut2 itu di studio samping itu karena digrebek ya?

Aku membaca kalimat chat dari Shanti.

Iya, ya Pak? Tadi mampir ke Warung Pak Soni, katanya ada yg sakaw. Bener gak, Pak?

Tika membalas chat dalam grup whatsapp itu.

Aku hanya membatin, cepat sekali kabar itu tersebar. Apakah ini berita benar? Padahal selama ini, di wilayah itu baik-baik saja. Bahkan tempat kosku juga termasuk modern. Ada CCTV dan security. Kebetulan studio musik dan tempat kosku itu pemiliknya sama. Ya, keluarga Pak Atma. Pak Atma memang penduduk lama dan pengusaha yang tajir melintir. Ia merintis usahanya sejak masih muda. Mulai buka warung, jual pakaian dan lainnya. Hingga saat ini, rumah lamanya dibangun menjadi tempat kosku dan di sebelahnya ada studio musik yang dikelola anaknya. Tapi, saat ini anaknya sedang sekolah di luar negeri, jadi sudah setahun digantikan oleh keponakan Pak Atma.

Kabarnya memang Pak Atma dan anaknya akan membuka usaha baru di dekat situ. Tapi entahlah. Jadi aku tidak percaya sebenarnya kalau ada penggerebekan semalam.

Aku jadi bingung dan sedikit resah. Kuharap berita itu hanya obrolan para ibu-ibu di warung saja.

Waktu menunjukkan pukul 16.00. Saatnya aku pulang. Sebetulnya aku lebih berharap hari ini berjalan lambat. Aku tidak ingin cepat pulang dan mendengar berita itu lebih banyak.

Dalam perjalanan pulang, aku bertemu Tika di mulut gang. Dia terlihat gugup, kami saling tatap dan mengerti apa yg sedang kami pikirkan.

“Yakin mau langsung balik nih, Sar? Sejujurnya aku jd takut”, ucap Tika.

“Aku juga takut. Tapi kita kan belum tau, beritanya benar atau nggak”, ucapku menghibur Tika.

“Hmm. Iya, sih. Tapi.. duh, gimana ya, bilangnya. Aku takut, Sar”, ucap Tika gugup.

“Tapi apa? Kamu tau sesuatu? Ceritanya pelan-pelan aja”, ucapku meyakinkan Tika.

“Iya, Sar. Tempo hari, pas aku mau jemur cucianku di balkon kamar, aku dengar ada ribut-ribut di studio. Kayak ada yang berantem”, cerita Tika sambil berbisik.

Aku mengangguk-angguk menanggapi cerita Tika. Ah, ngeri juga sih kalau banyak yang aneh-aneh orangnya. Jadi kurang nyaman, pikirku.

Sore itu jalanan gang tampak sepi. Tidak seperti biasanya. Tak lagi kudapati anak-anak yang berlarian berangkat mengaji, ibu yang sekadar bertegur sapa, atau lalu lalang warga.

Kami sampai di seberang rumah kos. Tapi, seperti ada yang aneh. Aku dan Tika menghentikan langkah dan mengawas-awasi dari kejauhan.

Kami lihat ada ambulans terparkir di depan studio. Walah apalagi ini, batinku. Aku melihat petugas dibantu Pak Atma menggotong tubuh Bang Rino ke ambulans, terlihat juga Bu RT memantau di samping ambulans.

“Sar, kok ada ambulans segala ya?”, ucap Tika cemas.

“Nggak tau juga. Mau ke sana buat cari tau?”, ucapku hati-hati.

“Kamu mau ke sana?”, tanya Tika sambil tetap memandang ke arah studio.

“Yuk!”, ajakku.

“Hm, nggak deh Sar. Aku langsung ke kamar aja. Takut. Kamu hati-hati ya”, Tika meyakinkan.

Aku mengangguk. Aku takut juga sebetulnya, tapi aku mau tahu cerita langsung dari sumbernya.

Perlahan aku mendekat. Kulihat ada Bu Ani juga disana. Dari kejauhan, kulihat Pak Atma dan Bu RT terlihat serius mendengarkan arahan petugas ambulans.

“Gimana, Bu?”, tanyaku menyapa Bu Ani.

“Eh, Mbak Sarah. Iya ini, Mbak. Saya dari tadi di sini. Bang Rino harus dibawa ke Rumah Sakit. Ternyata kemarin ada maling, katanya. Mau nyikat barang-barang studio. Untung Bang Rino ada. Langsung dihantam malingnya. Tapi dia jadi celaka.”

Aku mengangguk, menyimak penjelasan Bu Ani.

“Kemarin pas digerebek, warga pada gak liat Bang Rino katanya. Kayaknya mah dia ada kebon belakang”, Bu Ani menerka.

“Eh, jadi ketahuannya baru sekarang. Bang Rino pingsan. Tadi siang Pak Atma yang nemuin. Katanya penyakitnya kambuh. Makanya deh dipanggil ambulans”, jelas bu Ani.

Aku mengangguk-angguk menanggapi cerita Bu Ani. Aku tahu sih, Bang Rino memang punya penyakit serius. Pak Atma juga pernah cerita dia harus check up secara berkala ke Rumah Sakit. Pikiranku jadi ke mana-mana, mendadak dikagetkan dengan sirine ambulans.

Begitu ambulans pergi, aku bergegas menuju kosanku. Aku mampir sebentar ke warung kopi depan studio untuk membeli minum. Seperti biasa banyak bapak-bapak berkumpul disini. Aku mendengar merekab mengobrol soal Bang Rino.

“Ya Allah gua kira si Rino itu narkoba.”

“Gua pikir juga gitu. Abis berita yang beredar katanya ada yang sakaw kan di sana”.

“Kesian bener Rino ya. Udah sakit, dikata narkoba. Kagak ada yang tahu lagi kemaren dia hampir kemalingan”.

“Makanya, lain kali jangan lagi asal telen itu omongan-omongan yang belum jelas”.

Aku mengulum senyum mendengar penutup obrolan mereka yang disusul gelegar tawa.

Pesananku selesai, aku melangkah keluar. Aku harap, semuanya juga berakhir dan kembali tenang lagi.

Kolaborasi dari:

UmamahNJ dan Wulan Martina

#Bersyair, #Ceritaku, Uncategorized

Cita-Cita

Aku punya banyak cita-cita
Kadang-kadang memenuhi isi kepala
Kalau sudah berderak-derak
Seperti sedang murka

Aku punya banyak cita-cita
Masing-masing mengantre menjadi nyata
Bahkan banyak juga yang memaksa kasat mata
Katanya, lelah menjadi imajinasi belaka

Aku punya banyak cita-cita
Kadang hanya bisa kuceritakan kepada semesta
Maksudku, supaya mereka tahu betapa berharga juga keberadaannya
Meski kadang baru menjadi ingin saja

Aku punya banyak cita-cita
Mereka lah kawan yang setia
Menjagai semangat biar terus menyala
Hingga sunyi, senyap tak hinggap lama-lama

Aku punya banyak cita-cita
Mengisi panjangnya cerita
Tak pernah tahu takdirnya
Menjadi niscaya atau wacana
Yang penting sudah berpelukan dengan ikhtiar dan doa

#Bersyair

Aku, aku, aku…

Kadang aku menyelinap di antara lelahmu
Kadang aku menyusup di antara kepasrahanmu
Kadang aku mengejutkan di tengah sibukmu
Kadang aku memaksa di ujung kantukmu

Aku, aku, aku
Mencari apa saja yang tentang kamu
Aku, aku, aku
Berhenti pada apa saja yang ada kamu
Aku, aku, aku
Pasrah dengan apa pun yang mengandung maumu

Kukecap rasa apa saja
Kulihat apa saja

Mungkin saja aku tak melakukannya bersamamu
Tapi aku melakukannya untukmu

Aku ingin tinggal dalam ingatanmu
Meski sambil lalu
Atau dengan terburu-buru

Jika tak bisa kubuat kau menjadi bahagia,
Aku hanya ingin katakan bahwa karenamu, aku selalu bahagia

#Bersyair, #IniCeritaku

Layang-layang Putus Benang

Aku seperti layang-layang yang putus benang
Terseok-seok mengikuti arah angin
Aku tak ada pegangan rasanya
Inginnya pasrah tapi merasa belum lumrah

Merapal do’a?
Itu juga sudah
Menunggu diijabah?
Atau kurang khusyu’?
Mudah-mudahan sih sudah….
Daya umat biasa
Harapan penuh-penuh saja

Kukenang-kenang sebuah masa
Tidak terlalu lampau
Tapi sepertinya cukup seru
Lari-lari
Sembunyi-sembunyi
Banyak kejutan
Aku suka itu
Bukan tanpa air mata
Atau pun selamanya tawa
Tapi banyak berdendang
Mmm… aku tak segan melompat
Merayap
Atau menyembul dari balik pintu

Rindu rindu rindu
Berdendang dengan waktu
Rindu rindu rindu
Tidak serius melulu